PEMUDA DAN
SOSIALISASI
Disusun oleh :
Nama :
Fahmi
NPM : 53413068
Kelas : 1 IA 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang.
Masalah pemuda merupakan masalah yang abadi dan
selalu dialami oleh setiap generasi dalam hubungannya dengan generasi yang
lebih tua. Masalah-masalah pemuda ini disebakan karena sebagai akibat dari
proses pendewasaan seseorang, penyusuan diri dengan situasi yang baru dan
timbulah harapan setiap pemuda karena akan mempunyai masa depan yang baik
daripada orang tuanya. Proses perubahan itu terjadi secara lambat dan teratur
(evolusi)
Sebagian besar pemuda mengalami pendidikan yang lebih daripada orang tuanya. Orang tua sebagai peer group yang memberikan bimbingan, pengarahan, karena merupakan norma-norma masyarakat, sehingga dapat dipergunakan dalam hidupnya. Banyak sekali masalah yang tidak terpecahkan karena kejadian yang menimpa mereka belum pernah dialami dan diuangkapkannya.
Dewasa ini umum dikemukakan bahwa secara biologis dan politis serta fisik seorang pemuda sudah dewasa akan tetapi secara ekonomis, psikologis masih kurang dewasa. Contohnya seperti pemuda-pemuda yang sudah menikah, mempunyai keluarga, menikmati hak politiknya sebagai warga Negara tapi dalam segi ekonominya masih tergantung kepada orang tuanya.
Sebagian besar pemuda mengalami pendidikan yang lebih daripada orang tuanya. Orang tua sebagai peer group yang memberikan bimbingan, pengarahan, karena merupakan norma-norma masyarakat, sehingga dapat dipergunakan dalam hidupnya. Banyak sekali masalah yang tidak terpecahkan karena kejadian yang menimpa mereka belum pernah dialami dan diuangkapkannya.
Dewasa ini umum dikemukakan bahwa secara biologis dan politis serta fisik seorang pemuda sudah dewasa akan tetapi secara ekonomis, psikologis masih kurang dewasa. Contohnya seperti pemuda-pemuda yang sudah menikah, mempunyai keluarga, menikmati hak politiknya sebagai warga Negara tapi dalam segi ekonominya masih tergantung kepada orang tuanya.
1.2 Rumusan Masalah
Didalam
pembuatan karya tulis ini, penulis akan membahas mengenai :
1.
Apa pengertian pemuda ?
2.
Apa pengertian sosialiasi ?
3.
Bagaimana pengertian Internalisasi ?
4.
Bagaimana gambaran sosialisasi pemuda ?
5.
Bagaimana peranan sosial pemuda pada masyarakat ?
1.3 Tujuan Penulis
Berdasarkan latar belakang yang menjadi alasan penulis
membuat karya ilmiah ini, penulis membuat karya ilmiah ini dengan tujuan untuk :
1. Memberi tahukan pembaca mengenai
arti pemuda dan sosialisasi.
2. Penulis ingin mengajak pembaca untuk
mengetahui bagaimana pengertian pemuda dan pengertian sosialisasi dan
internalisasi pemuda serta peranan sosial pemuda itu sendiri.
3. Untuk melengkapi tugas dari mata
kuliah Ilmu Sosial.
BAB II
TEORI
2.1 Teori Dari Berbagai Sumber
1. Princeton mendefinisikan kata pemuda
(youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and
maturity; early maturity; the state of being young or immature or
inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.
Sedangkan
dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people,
sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Contoh lain
di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no
longer eligible for adolescent social services”
2. Sejarawan Taufik Abdullah (1995)
memandang pemuda atau generasi muda adalah konsep-konsep yang sering mewujud
pada nilai-nilai herois-nasionalisme.
3. Remaja berasal dari kata latin
adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence
mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional
sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai
tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga
golongan dewasa atau tua. Seperti
yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja
menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan. Karena remaja belum
memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri
Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa
anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk
memasuki masa dewasa.
4. Masa remaja berlangsung antara umur
12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun
bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) adalah :
Masa
peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami
masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya.
Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau
bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
2.2 Studi Kasus
SOSIAL MEDIA SEBAGAI ALAT PERJUANGAN PEMUDA
28 October 2011 | 19:20
Indonesia berhasil keluar dari
cengekraman pemimpin otoriter di tahun 1966 dan 1998.
Melihat track record pemuda
Indonesia yang gilang gemilang, sudah menjadi kewajiban kita untuk
meneruskannya. Pemuda Indonesia adalah motor penggerak yang hakiki. Pemuda
berjuang mengawal pemerintahan yang bersih, membela keadilan yang semakin
jarang ditemukan di negeri ini.
Pemuda mengawal perubahan lewat
caranya sendiri. Pemuda di tahun 1928 menunjukkan eksistensinya dengan
berorganisasi, sementara pemuda di tahun 1966 dan 1998 menuntut perubahan lewat
konsolidasi massa yang turun ke jalan. Kini dengan semakin majunya zaman, jalan
yang dipilih sebagai sarana berjuang juga semakin banyak.
Salah satu media perjuangan pemuda
kontemporer adalah lewat sosial media. Dunia maya yang awalnya hanya sebagai
alat pencari informasi maupun kesenangan ternyata juga dapat digunakan sebagai
alat pergerakan. Reformasi di Tunisia bisa menjadi contoh. Tidak akan pernah
terbayangkan sebelumnya bahwa perubahan rezim di salah satu negara di Afrika
Utara tersebut salah satunya diawali lewat dunia maya. Akibat sistem ekonomi
yang tidak menguntungkan rakyat, para pemuda membangun jejaring untuk melakukan
perubahan lewat sosial media seperti facebook, twitter maupun blog. Walaupun
pemerintah kemudian melarang penggunaan media-media tersebut, bahkan menangkapi
para blogger yang dikenal kritis, namun perjuangan menuntut perubahan tetap
berjalan hingga akhirnya presiden Zine El Abidine Ben Ali mundur.
Tidak kita dapat mengambil contoh
positif dari penggunaan sosial media. Karena peran generasi muda Tunisia dan
pemanfaatan sosial media sebagai sarana perjuangan maka perubahan yang
dikehendaki sebagian besar masyarakat Tunisia dapat terealisasi.
Pemanfaatan sosial media sebagai
atal perjuangan pemuda merupakan hal yang vital. Ketika media konvensional
sudah menjadi alat sekelompok elit untuk menyebarkan agenda kepentingannya atau
menjadi alat pengeruk rupiah bagi para kapitalis, maka sosial media menjadi
sarana penyedia informasi yang independen. Semua orang bisa terlibat di
dalamnya karena sosial media bersifat bias kepemilikan.
Inilah yang harus mampu dimanfaatkan
para generasi muda. Apalagi para pemuda yang memiliki gagasan untuk maju harus
bertarung dengan kaum elit yang memiliki lebih banyak modal untuk menang
seperti modal kekuasaan, modal keuangan, maupun modal kekerasan yang sah.
Melalui dunia maya sisi lain dari dinamika kehidupan di negeri ini bisa menjadi
konsumsi publik. Sosial media menjadi tempat terkuaknya permasalahan yang luput
dari pemberitaan media.
Dunia maya juga menjadi tempat yang
tepat untuk memperlihatkan eksistensi. Pemuda bisa mengungkapkan gagasannya
dengan bebas. Pemuda bisa menuliskan ide-idenya tanpa harus dimuat di media
massa besar karena sudah memiliki media alternatif yang siap menampung setiap
kata-katanya. Dari sinilah generasi muda diharapkan berperan aktif dalam
perubahan zaman.
Kebenaran dan bersikap kritis
melalui situs jejaring sosial maupun blog, kita sebenarnya telah ikut berperan
seperti pemuda-pemuda Indonesia di setiap zaman. Salah satu bentuk kesuksesan
dalam perjuangan melalui pemanfaatan sosial media ada dalam kasus Prita
Mulyasari. Prita yang awalnya hanya curhat di blog pribadinya tentang pelayanan
buruk yang diterima saat dirawat di salah satu rumah sakit justru berakibat
pada ancaman hukuman karena dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit
tersebut.
Salah satu bentuk kesuksesan dalam
perjuangan melalui pemanfaatan sosial media ada dalam kasus Prita Mulyasari.
Prita yang awalnya hanya curhat di blog pribadinya tentang pelayanan buruk yang
diterima saat dirawat di salah satu rumah sakit justru berakibat pada ancaman
hukuman karena dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut.
Vonis yang mengancam Prita akibat
curhatannya dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai hukuman yang
mengada-ada. Kasus yang menimpa Prita seperti menjadi bukti buruknya sistem
penegakan hukum di negeri ini. Para aparat penegak hukum bukannya membela yang
benar justru membela yang berkuasa. Apalagi dalam perkembangannya muncul desas
desus bahwa para penegak hukum mendapat layanan khusus dari rumah sakit yang
menggugat Prita untuk memenangkan kasusnya.
Dimaksudkan untuk menggalang uang
dari masyarakat. Koin Untuk Prita menjadi media masyarakat dalam memberikan
dukungan moral sekaligus simbol perlawanan terhadap para pemilik kewenangan di
negeri ini yang bertindak semena-mena.
Selain kasus Prita, kasus
kriminalisasi yang menimpa Bibit-Candra, dua pimpinan KPK juga dapat
dikategorikan sebagai keberhasilan sosial media sebagai sarana perjuangan.
Lagi-lagi, berkat pembentukan akun facebook “Gerakan Tolak Kriminaisasi KPK”
dan disertai aksi turun ke jalan mendukung Bibit-Candra kasus ini mendapat
perhatian khusus dari pemerintah pusat hingga berakhir dengan dibebaskannya dua
pimpinan KPK tersebut lewat wewenang presiden.
Tentu masih banyak lagi permasalahan
ketidakadilan yang terekspos berkat kehadiran sosial media, baik itu dalam
skala besar maupun kecil. Namun yang perlu diperhatikan, sebagian besar
perjuangan tersebut digerakkan oleh generasi muda. Merekalah yang menjadi motor
penggerak perubahan. Mereka yang telah mendobrak sistem penyelewengan dalam
penegakkan keadilan di negeri ini. Pemuda pula yang rela berjejaring,
mengkonsolidasikan masaa baik itu lewat dunia nyata maupun maya untuk
menyerukan keadilan, meskipun yang mereka bela belum tentu orang yang dikenalnya
patut diperjuangkan.
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa
perjuangan dan perubahan yang terjadi di Indonesia tidak dapat terlepas dari
andil generasi mudanya. Pemuda di setiap zaman berjuang membela keadilan lewat
jalannya sendiri. Kini dengan semakin majunya teknologi, maka semakin maju pula
cara pemuda menyuarakan keadilan. Demonstrasi bukan lagi sarana tunggal bagi
para pemuda untuk menuntut perubahan. Sosial media jadi salah satu tempat
pemuda merepresentasikan idenyaa. Melalui sosial media, pemuda dari seluruh
penjuru negeri saling berjejaring, berkomunikasi untuk menghasilkan gagasan
brilian. Semua itu demi terciptanya Indonesia yang adil dan sejahtera.
Maka benar apa yang dikatakan Bung
Karno, “Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, maka berikanlah aku lima pemuda
agar dapat mengubah dunia.”
2.3
Pembahasan
Sosialisasi pemuda
Pemuda adalah individu dengan
karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki
pengendalian emosi yang stabil. Pemuda menghadapi masa perubahan sosial maupun
kultural.
Proses sosialisasi adalah proses
yang membantu individu melalui media pembelajaran dan penyesuaian diri,
bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi, baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ada beberapa hal yang perlu
kita ketahui dalam sosialisasi, antara lain: Proses Sosialisasi, Media
Sosialisasi dan Tujuan Sosialisasi.
Melalui proses sosialisasi, pemuda
merubah cara berpikir dan kebiasaan hidupnya. Dengan proses sosialisasi,
seseorang menjadi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di kehidupan
masyarakat dan lingkungannya. Kepribadian seorang pemuda dapat terbentuk
melalui proses sosialisasi. Dalam hal sosialisasi dikatakan sebagai proses yang
membantu individu belajar dan menyesuaikan diri serta bagaimana berpikir dapat
berfungsi dalam kelompok. Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar
kebudayaan dalam anggota masyarakat dan hubungan sosial.
Internalisasi
Internalisasi adalah proses norma-norma yang mencakup
norma-norma kemasyarakatan yang tidak berhenti sampai institusional saja, akan
tetapi mungkin norma-norma tersebut sudah mendarah daging dalam jiwa
anggota-anggota masyarakat.
a.
Pendekatan klasik
tentang pemuda
Melihat bahwa muda merupakan masa perkembangan yang enak dan menarik. Kepemudaan merupakan suatu fase dalam pertumbuhan biologis seseorang yang bersifat seketika dan suatu waktu akan hilang dengan sendirinya, maka keanehan-keanehan yang menjadi ciri khas masa muda akan hilang sejalan dengan berubahnya usia.
Menurut pendekatan yang klasik ini, pemuda dianggap sebagai suatu kelompok yang mempunyai aspirasi sendiri yang bertentangan dengan aspirasi masyarakat. Selanjutnya munculah persoalan-persoalan frustasi dan kecemasan pemuda karena keinginan-keinginan mereka tidak sejalan dengan kenyataan. Dan timbulah konflik dalam berbagai bentuk proses. Di sinilah pemuda bergejolak untuk mencari identitas mereka.
b. Dalam hal ini hakikat kepemudaan ditinjau
dari dua asumsi pokok.
Penghayatan mengenai proses perkembangan manusia bukan sebagai suatu koninum yang sambung menyambung tetapi fragmentaris, terpecah-pecah dan setiap pragmen mempunyai arti sendiri-sendiri.
Asumsi wawasan kehidupan adalah posisi pemuda dalam arah kehidupan sendiri. Perbedaan antar kelompok-kelompok yang ada, antar generasi tua dan pemuda, misalnya hanya terletak pada derajat ruang lingkup tanggung jawabnya.
Generasi tua sebagai angkatan-angkatan yang lalu (passing generation) yang berkewajiban membimbing generasi muda sebagai generasi penerus. Dan generasi pemuda yang penuh dinamika hidup berkewajiban mengisi akumulator generasi tua yang mulai melemah, disamping memetik buah-buah pengalamannya, yang telah terkumpul oleh pengalamannya.
Pihak generasi tua tidak bisa menuntut bahwa merekalah satu-satunya penyelamat masyarakat dan dunia. Dana melihat generasi muda sebagai perusak tatanan sosial yang sudah mapan, sebaliknya generasi muda juga tidak bisa melepaskan diri dari kewajiban untuk memelihara dunia. Dengan demikian maka adanya penilaian yang baku (fixed standard) yang melihat generasi tua adalah sebagai ahli waris. Dari segala ukuran dan nilai dalam masyarakat, karena itu para pemuda menghakimi karena cenderung menyeleweng dari ukuran dan nilai tersebut karena tidak bisa diterima. Bertolak dari suatu kenyataan, bahwa bukan saja pemuda tapi generasi tua pun harus sensitif terhadap dinamika lingkungan dengan ukuran standard yang baik.
Dengan pendapat di atas jelas kiranya bahwa pendekatan ekosferis mengenai pemuda, bahwa segala jenis ”kelainan” yang hingga kini seolah-olah menjadi hak paten pemuda akan lebih dimengerti sebagai suatu keresahan dari masyarakat sendiri sebagai keseluruhan. Secara spesifiknya lagi, gejolak hidup pemuda dewasa ini adalah respon terhadap lingkungan yang kini berubah dengan cepat.
Penghayatan mengenai proses perkembangan manusia bukan sebagai suatu koninum yang sambung menyambung tetapi fragmentaris, terpecah-pecah dan setiap pragmen mempunyai arti sendiri-sendiri.
Asumsi wawasan kehidupan adalah posisi pemuda dalam arah kehidupan sendiri. Perbedaan antar kelompok-kelompok yang ada, antar generasi tua dan pemuda, misalnya hanya terletak pada derajat ruang lingkup tanggung jawabnya.
Generasi tua sebagai angkatan-angkatan yang lalu (passing generation) yang berkewajiban membimbing generasi muda sebagai generasi penerus. Dan generasi pemuda yang penuh dinamika hidup berkewajiban mengisi akumulator generasi tua yang mulai melemah, disamping memetik buah-buah pengalamannya, yang telah terkumpul oleh pengalamannya.
Pihak generasi tua tidak bisa menuntut bahwa merekalah satu-satunya penyelamat masyarakat dan dunia. Dana melihat generasi muda sebagai perusak tatanan sosial yang sudah mapan, sebaliknya generasi muda juga tidak bisa melepaskan diri dari kewajiban untuk memelihara dunia. Dengan demikian maka adanya penilaian yang baku (fixed standard) yang melihat generasi tua adalah sebagai ahli waris. Dari segala ukuran dan nilai dalam masyarakat, karena itu para pemuda menghakimi karena cenderung menyeleweng dari ukuran dan nilai tersebut karena tidak bisa diterima. Bertolak dari suatu kenyataan, bahwa bukan saja pemuda tapi generasi tua pun harus sensitif terhadap dinamika lingkungan dengan ukuran standard yang baik.
Dengan pendapat di atas jelas kiranya bahwa pendekatan ekosferis mengenai pemuda, bahwa segala jenis ”kelainan” yang hingga kini seolah-olah menjadi hak paten pemuda akan lebih dimengerti sebagai suatu keresahan dari masyarakat sendiri sebagai keseluruhan. Secara spesifiknya lagi, gejolak hidup pemuda dewasa ini adalah respon terhadap lingkungan yang kini berubah dengan cepat.
Media Sosialisasi antara lain :
1. Keluarga
Pertama-tama yang dikenal oleh
anak-anak adalah ibunya, bapaknya dan saudara-saudaranya.
2. Sekolah
Pendidikan di sekolah merupakan
wahana sosialisasi sekunder dan merupakan tempat berlangsungnya proses
sosialisasi secara formal.
3. Teman bermain (kelompok bermain)
Kelompok bermain mempunyai pengaruh
besar dan berperan kuat dalam pembentukan kepribadian anak. Dalam kelompok
bermain anak akan belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya.
4. Media Massa
Media massa seperti media cetak,
(surat kabar, majalah, tabloid) maupun media elektronik (televisi, radio, film
dan video). Besarnya pengaruh media massa sangat tergantung pada kualitas dan
frekuensi pesan yang disampaikan.
Peranan Media Massa
masa remaja yang merupakan periode
peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.
Dimana ditandai beberapa ciri :
a. keinginan memenuhi dan menyatakaan
identitas diri.
b. melepas diri dari ketergantungan
orang tua
c. memperoleh akseptabilitas di tengan
sesama remaja.
Dengan ciri-ciri ini, remaja
cenderung melahap begitu saja arus informasi yang sesuai dengan keinginan
mereka.
Upaya penangkalan :
a. Pentingnya membekali remaja dengan
keterampilan yang mencakup kemampuan menemukan, memilih, menggunakan dan
mengevaluais informasi.
b. Selain itu, diperlukan melakukan
intervensi ke dalam lingkungan informasi mereka secara interpersonal.
c. pemecahan lainnya adalah dengan
bimbingan orangtua dalam menngkonsumsi media massa
d. sedangkan media massa harus tetap
konsisten dengan kode etik dan tanggung jawab sosial yang di embannya.
5. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja merupakan media
sosialisasi yang terakhir cukup kuat, dan efektif mempengaruhi pembentukan
kepribadian seseorang.
Tujuan Pokok Sosialisasi :
a. Individu harus diberi ilmu
pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat.
b. Individu harus mampu berkomunikasi
secara efektif dan mengenbangkankan kemampuannya.
c. Pengendalian fungsi-fungsi organik
yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
d. Bertingkah laku secara selaras
dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok ada pada lembaga atau
kelompok khususnya dan pada masyarakat umum.
Peranan Sosial Mahasiswa dan Pemuda di Masayrakat
Peranan sosial mahasiswa dan pemuda di masyarakat,
kurang lebih sama dengan peran warga yang lainnnya di masyarakat. Mahasiswa
mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum intelektual yang sedang
menempuh pendidikan. Pada saatnya nanti sewaktu mahasiswa lulus kuliah, ia akan
mencari kerja dan menempuh kehidupan yang relatif sama dengan warga yang lain.
Secara tak sadar namun perlahan tapi pasti, para
generasi muda dihinggapi dengan idiologi baru dan perilaku umum yang mendidik
mereka menjadi bermental instan dan bermental bos. Pemuda menjadi malas bekerja
dan malas mengatasi kesulitan, hambatan dan proses pembelajaran tidak
diutamakan sehingga etos kerja jadi lemah.
Sarana tempat hiburan tumbuh pesat bak “jamur di musim
hujan” arena billyard, playstation, atau arena hiburan ketangkasan lainnya,
hanyalah tempat bagi anak-anak dan generasi muda membuang waktu secara percuma
karena menarik perhatian dan waktu mereka yang semestinya diisi dengan lebih
banyak untuk belajar, membaca buku di perpustakaan, berorganisasi atau mengisi
waktu dengan kegiatan yang lebih positif.
Peran pemuda yang seperti ini adalah peran sebagai
konsumen saja, pemuda dan mahasiswa berperan sebagai “penikmat” bukan yang
berkontemplasi (pencipta karya). Dapat ditambahkan disini persoalan NARKOBA
yang dominan terjadi di kalangan generasi muda yang memunculkan kehancuran
besar bagi bangsa Indonesia.
Mengembangkan Potensi Generasi Muda
Di negara-negara maju, salah satu di antaranya adalah
Amerika Serikat, para mahasiswa sebagai bagian generasi muda, didorong,
dirangsang dengan berbagai motivasi dan dipacu untuk maju dalam berlomba
menciptakan suatu ide / gagasan yang harus diwujudkan dalam suatu bentuk
barang, dengan berorientasi pada teknologi mereka sendiri. Untuk mengembangkan
ide-ide / gagasan-gagasan itu, Institut Teknologi Maschussets (MIT) Universitas
Oregon dan Universitas Carnegie Mellon (CMU), telah membuat proyek bersama
berjangka waktu lima tahunan, melibatkan sekitar 600 mahasiswa dan 55 anggota
fakultas dalam program-program belajar dan membaharu dalam wadah Nasional
Science Foundation (NSF), di masing-masing pusat inovasi
universitas-universitas tersebut. Hasil yang dicapai proyek itu : Lebih dari
dua lusin produk, proses atau pelayanan baru telah dipasarkan dan menciptakan
hampir 800 pekerjaan baru, dan memperoleh hasil penjualan sebesar $46,5 juta
(Kingsbury. Louise, 1978:59)
Gagasan dan pola kerja yang hampir serupa telah
dikembangkan pula di negara-negara Asia, misalnya : Jepang, Korea Selatan,
Singapura, Taiwan. Jerih payah dan ketentuan para inovator pada sektor
teknologi industri itu membawa negara-negara itu tampil dengan lebih meyakinkan
sebagai negara-negara yang berkembang mantap dalam perekonomiannya.
Sebagaimana upaya bangsa Indonesia unrtuk
mengembangkan potensi tenaga muda agar menjadi inovator-inovator yang memiliki
keterampilan dan skill berkualitas tinggi.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pemuda sesungguhnya bukan sekadar bagian dari
lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka memainkan peranan penting dalam perubahan
sosial. Tapi, jauh daripada itu, pemuda merupakan konsepsi yang menerobos
definisi. Hal itu disebabkan keduanya bukanlah semata-mata istilah ilmiah,
melainkan lebih merupakan pengertian ideologis dan kultural. ‘Pemuda harapan
bangsa’, ‘pemuda pemilik masa depan bangsa,’ dan sebagainya, betapa
mensyaratkan nilai yang melekat pada kata ‘pemuda’. Pernyataan menarik
tersebut, dalam konteks Indonesia sebagai bangsa, menemukan jejaknya.
Sosok pemuda selalu terkait dengan peran
sosial-politik dan kebangsaan. Itu dapat dipahami mengingat hakikat perubahan
sosial-politik yang selalu tercitrakan pada sosok pemuda. Citra pemuda
Indonesia tidak lepas dari catatan sejarah yang telah diukirnya sendiri.
3.2
Daftar Pusaka / Sumber
Katuuk , Neltje F, Harwatiyoko. 1997.
MKDU Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Gunadarma
http://biebi-habibi.blogspot.com/2010/11/tugas-isd-pemuda-dan-sosialisasi.htmlhttp://jamalfirdaus.blogspot.com/2010/11/pemuda-dan-sosialisasi.html
No comments:
Post a Comment